Powered by Blogger.

Thursday, 11 September 2014

Tingkatkan Kualitas Diri Menjelang AEC 2015 (Opini Harian Analisa/Senin, 26 Mei 2014)


Dapat dibaca disini
Tingkatkan Kualitas Diri Menjelang AEC 2015
Oleh : Khairun Nissa
Setiap tahun, seluruh Universitas yang ada di Indonesia meluluskan ribuan sarjana yang siap bekerja. Namun, apakah ijazah S1 mampu dijadikan sebagai senjata untuk mendapatkan pekerjaan?. Pertanyaan ini akan selalu ditanyakan kepada para sarjana yang telah diwisuda. Jangan sampai, waktu produktif yang telah mereka luangkan untuk mempersiapkan diri malah sia-sia saat mereka terjun ke masyarakat. Belum lagi, tahun 2015 indonesia akan menghadapi persaingan global.
Sejarahnya, setelah krisis ekonomi yang melanda khususnya kawasan Asia Tenggara, para Kepala Negara ASEAN pada KTT ASEAN ke-9 di Bali, Indonesia tahun 2003, menyepakati pembentukan komunitas ASEAN (ASEAN Community) dalam bidang Keamanan Politik (ASEAN Political-Security Community), Ekonomi (ASEAN Economic Community), dan Sosial Budaya (ASEAN Socio-CultureCommunity) dikenal dengan Bali Concord II. Untuk pembentukan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, ASEAN menyepakati pewujudannya diarahkan pada integrasi ekonomi kawasan yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint.
            AEC Blueprint merupakan pedoman bagi Negara-negara Anggota ASEAN dalam mewujudkan AEC 2015. AEC Blueprint memuat empat pilar utama, salah satunya yaitu: ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas.
Untuk mewujudkan AEC pada tahun 2015, seluruh Negara ASEAN harus melakukan liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil secara bebas dan arus modal yang lebih bebas. Untuk memfasilitasi arus bebas jasa di kawasan ASEAN, juga dilakukan upaya-upaya untuk melakukan pengakuan tenaga profesional dibidang jasa guna memudahkan pergerakan tenaga kerja tersebut di kawasan ASEAN berupa antara lain penyusunan Mutual Recognition Arrangements (MRAs)
Seperti yang disebutkan, Salah satu Elemen Pasar Tunggal Dan Berbasis Produksi Asean Economic Community (AEC) adalah arus bebas tenaga kerja terampil. Artinya, akan terjadi daya saing antar negara asean, tidak hanya sumber daya alam dan produk, namun juga sumber daya manusia. Masyarakat indonesia harus siap bersaing dengan tenaga asing yang akan menyerbu indonesia. masyarakat pun harus memiliki keterampilan, keahlian yang kompeten, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa asing juga penguasaan teknologi agar mampu bersaing dengan tenaga asing.
AEC akan membuka peluang yang besar bagi para profesional seperti dokter, guru, ataupun para buruh dari negara tetangga untuk masuk ke indonesia dengan mudah. Hal ini, penting untuk kita sadari sejak dini agar melakukan persiapan yang matang dan tidak hanya berkutat pada persoalan politik, memperdebatkan masalah internal politik, apalagi acuh dalam kondisi ini.
Perilaku masyarakat yang konsumtif, dengan jumlah penduduk 255,5 juta atau 40,3 persen dari total jumlah penduduk ASEAN menjadikan indonesia sebagai sasaran pasar yang empuk bagi produk-produk luar. Hal ini tentunya akan meningkatkan minat para pengusaha asing untuk berlomba-lomba masuk ke pasar indonesia. sayangnya, juga akan berdampak pada pengusaha dalam negeri dan pekerja yang ikut terlibat didalamnya. Jika saat ini produksi dalam negeri harus bersaing keras dengan produk luar, maka jika pasar bebas ASEAN dilakukan konsekuensinya adalah kita harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat bersaing dan bertahan dalam persaingan nanti.

Persiapan SDM
            Kabar gembiranya, Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, jumlah penduduk usia produktif Indonesia paling unggul di ASEAN.
            Menurut Armida, memasuki pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun depan, perbandingan jumlah penduduk Indonesia yang memasuki usia produktif dengan negara ASEAN lainnya adalah 38 : 100. Artinya, setiap seratus penduduk ASEAN yang masuk usia produktif, 38 di antaranya ada di Indonesia. Sedangkan negara lain di ASEAN jumlah penduduk usia produktifnya lebih kecil, seperti Singapura dan Thailand.
Jumlah penduduk usia produktif yang besar ini, kata Armida, diperkirakan akan bertahan sampai 2035. “Kami harapkan pada 2019 Indonesia bisa menjadi midlle income country. Kalau sekarang kan masih middle lower country,” katanya. (Tempo.co)
Hal ini, dapat menjadi sebuah peluang bagi indonesia untuk dapat meningkatkan perekonomian dan juga kesejahteraan masyarakatnya, namun, jumlah juga tak mampu menentukan keberhasilan melainkan kualitas dan keahlian sumberdaya manusianyalah yang akhirnya harus diprioritaskan agar mampu menciptakan masyarakat yang berdaya saing tinggi.
Mempersiapkan Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk bisa bersaing dengan negara lain bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam hitungan hari. perlu pembiasaan dan juga pelatihan yang cukup agar menghasilkan orang-orang yang berkualitas. Namun, bukan berarti indonesia tak memiliki orang-orang yang berkompeten dibidangnya. Kita memiliki banyak sekali orang cerdas di indonesia, namun tampaknya untuk membentuk generasi yang sama cerdasnya pun perlu kesempatan dan juga waktu untuk membentuknya. Hal yang bisa kita lakukan dari sekarang adalah menyadarkan masyarakat untuk mempersiapkan diri agar mampu bersaing sehingga tidak terjadi hingar bingar ditengah persaingan global nanti.
Sehingga, setelah kualitas diri ditingkatkan, maka diharapkan mampu menciptakan ide, produk serta mampu menciptakan produk unggulan.
Selain itu, tidak hanya para imigran yang bisa bekerja ke indonesia, namun kita juga bisa mempersiapkan diri untuk bekerja di negara ASEAN dengan mudah apabila memiliki keahlian yang dapat diandalkan dibidangnya masing-masing.
penulis sebagai mahasiswa tingkat akhir pun menyadari bahwa usai menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, kitalah yang akan menjadi bagian dari persaingan global nanti. Kekhawatiran tentu ada saat memasuki dunia kerja. Namun, dengan usia yang masih produktif semoga dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Semoga, semua kalangan mulai dari generasi muda, pelajar, mahasiswa, sarjana mampu menjadi pribadi yang dapat diandalkan dimasyarakat dan menjadi para ahli dibidangnya masing-masing.
Penulis adalah mahasiswi tingkat akhir FKIP Bahasa Inggris UMSU.

No comments:

Post a Comment

Blogroll

 

Google+ Followers

Blogger news

About