Powered by Blogger.

Thursday, 11 September 2014

Budaya Dan Gadget (Opini Harian Analisa/Selasa, 29 April 2014)



Budaya dan Gadget
Oleh : Khairun Nissa
Budaya dan gadget sepertinya memiliki kesamaan. Pada dasarnya, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang juga diwariskan dari generasi ke generasi. sedangkan gadget saat ini tengah digandrungi masyarakat, semua orang memilikinya. Tanpa diwariskan, siapapun tampaknya membutuhkan alat satu ini. Zaman gadget telah memberikan warna baru bagi peradaban manusia, memudahkan aktivitas manusia dan juga memberikan pola hidup baru.
Ditambah lagi, perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lainnya yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Bahkan menurut J.J Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yakni gagasan, aktivitas dan artefak. Tak salah bila kita menyamakan budaya dengan gadget.
Kini, tak lengkap rasanya apabila tak memiliki gadget. Mulai dari handphone, laptop, android, blackberry dan lainnya. Nomor telephone kini menjadi nama kedua bagi seseorang untuk berkomunikasi dimanapun dan kapanpun. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. kini, tanpa disadari, semua orang telah mengubah pola hidupnya.
Bersosialisasi adalah kebutuhan manusia. Dengan bersosialisasi manusia dapat melatih emosi mereka, apa itu dengan mengutarakan kesenangan, kemarahan, dan berhadapan dengan orang lain. apabila perilaku sosial ini telah digantikan dengan gadget, maka tak butuh lagi bersosialisasi secara langsung. Hal ini dapat merubah perilaku manusia menjadi individualis. Karena mereka tak merasakan secara utuh emosi yang tengah mereka rasakan.
Kekurangan dan Kelebihan
Sebagai alat yang diciptakan untuk membantu manusia berkomunikasi dari jarak jauh, gadget sejatinya tidak digunakan untuk hal-hal yang berlebihan. Ketergantungan dengan gadget membuat naluri manusia tidak peka terhadap lingkungan.
Akan lebih baik apabila kita bergantung pada kemampuan yang kita miliki. Otak yang diciptakan mampu melebihi kapasitas gadget canggih sekalipun tak akan mampu digantikan oleh alat manapun. Gadget bisa saja habis baterai saat kita gunakan dalam waktu yang lama, namun otak manusia mampu digunakan hingga tua tanpa takut soak. Bahkan apabila digunakan terus menerus akan meningkatkan kemampuan kita dalam berfikir.
Gadget seringkali diartikan dengan modernisasi, gaya hidup serta kecanggihannya yang membuat siapa saja ingin memilikinya. Sedangkan budaya dewasa ini telah kehilangan eksistensinya dimata kaum muda, lagu tradisional jarang terdengar diradio karena kebanyakan mereka lebih memilih lagu pop atau yang kebarat-baratan, yang dinilai lebih gaul dan ngetrend.
Kecintaan terhadap budaya pun seakan hilang akibat masuknya budaya asing dan perkembangan teknologi yang telah memakan banyak waktu generasi muda, mulai dari televisi, playstation, komputer hingga internet.
Budaya adalah identitas dari suatu bangsa, dengan melimpahnya sumber daya alam yang ada dinegri ini, alangkah baiknya kita memiliki budaya yang tetap dilestarikan sebagai nilai tambah untuk bersaing dengan negara lain.
Sesungguhnya negara yang menjadi kebanggan itu adalah negara yang mampu mempertahankan budayanya ditengah kecanggihan teknologi. Dua hal ini bisa saja dikombinasikan menjadi sesuatu yang baru. Lihat saja negri asal gingseng yang kini berkembang pesat dan menjadi daerah tujuan wisata.
Pentingnya budaya bagi masyarakat
Tak adanya filteraterisasi budaya asing yang masuk ke Indonesia menambah daftar penyebab makin pudarnya kecintaan terhadap kebudayaan sendiri. telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu wujud kebudayaan adalah aktivitas, tak hanya pada orang dewasa namun ini juga terjadi pada anak-anak. Sangat sulit menemukan anak-anak yang bermain bersama dengan permainan tradisional atau permainan daerah, sebaliknya dengan mudah kita bisa menemukan mereka sedang bermain diwarnet-warnet atau dirumah dengan gadget atau komputer miliknya.
Padahal hal itu memberikan banyak efek negatif daripada positifnya. Aktivitas yang telah berubah ini menunjukkan bahwa kebudayaan telah mengalami perubahan yang cukup signifikan.                                                        Kenyataannya, budaya memberikan sebuah nilai yang menjadi tolak ukur bagi komunitas ataupun sekelompok orang tersebut. Bagaimana mereka saling berinteraksi dan menilai tingkah laku seseorang.
Tiga Pertanyaan
Hasil kajian tahun 2012 yang dilakukan oleh Hastangka, Peneliti Pusat Studi Pancasila yang melakukan survey kepada 223 mahasiswa dari berbagai daerah dengan tiga pertanyaan mendasar, menyimpulkan bahwa, pertama apa yang membuat mereka bangga Indonesai adalah karena Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, suku, bangsa dan keindahan Alam, serta kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Pertanyaan kedua, apa yang membuat mereka tidak bangga menjadi bangsa Indonesia?. mereka menyimpulkan bahwa persoalannya pada para pemimpin negara yang berpikir instant, egois dan mementingkan dirinya sendiri. seperti yang kita ketahui sekarang, korupsi memang telah menjadi masalah utama dinegara ini. bagaimana tidak, banyaknya masyarakat miskin yang terlantar, naiknya harga minyak hingga masalah nilai rupiah yang melemah membuat masyarakat semakin terjepit untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Sedangkan pertanyaan ketiga, yakni persoalan mendasar apa yang ada didaerah mereka masing-masing?. Kajian ini menyimpulkan bahwa persoalan ketidakmerataan pendidikan baik dari aspek kualitas dan fasilitas pendidikan yang kurang memadai sehingga menimbulkan ketidakpedulian masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan dan lingkungan sekitarnya, serta persoalan infrastruktrur dan pelayanan publik yang rendah, kurang perhatian dan perbaikan menyebabkan masyarakat merasa diabaikan oleh negara, terutama didaerah terpencil.
Pengangguran, kriminalitas, narkoba, seks bebas, penyalahgunaan jabatan dan wewenang yang dilakukan oleh pejabat daerah sehingga orang yang cerdas, inovatif dan berdedikasi kurang mendapatkan tempat di pemerintahan. Dan lagi, masih banyak terjadi illegal lodging. Oleh karena itu, budaya dan nilai kearifan lokal menjadi modal utama dalam penguatan jati diri bangsa yang kian rapuh dan tergerus oleh arus globalisasi, imbuh Hastangka.
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Tiga pertanyaan tersebut juga memberikan sedikit pencerahan tentang pandangan para generasi muda pada negaranya. Keberagaman budaya menjadi identitas bangsa yang dapat dibanggakan. Tak hanya kepuasan bagi orang lain, namun pula memberikan kepuasan bagi diri sendiri karena telah mewarisi kebudayaan nenek moyang.
Tak kenal maka tak sayang, agar dapat mencintai kebudayaan penting pula untuk mengenal kebudayaan itu sendiri. kebudayaan tak hanya disimbolkan pada upacara pernikahan, namun juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. tak masalah dengan gadget ataupun alat canggih lainnya, disamping kita bisa mengkombinasikan keduanya dengan cara kita tentu akan memberikan dampak yang baik bagi jati diri bersama dan kehidupan mendatang.
Semoga ditengah arus globalisasi dan kebudayaan asing yang kian menarik hati, masih ada tempat untuk kebudayaan dan moral bangsa ini, tak hanya mencintai batik, angklung, tari pendet, keris, rendang, gamelan jawa, reog ponorogo (dan lainnya yang belum ataupun sudah pernah diklaim), namun juga kebudayan-kebudayaan lain yang belum terdengar gaungnya.
Penulis adalah mahasiswi FKIP Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

No comments:

Post a Comment

Blogroll

 

Google+ Followers

Blogger news

About