Powered by Blogger.

Monday, 19 August 2013

PJTL di Salam Ulos

sudah sebulan yang lalu mengikuti PJTL (pelatihan Jurnalistik tingkat Lanjut) yang diadakan Suara USU di danau Toba. mungkin karena banyak fikiran kala itu untuk mengadakan acara semarak teropong. baru tersadar kalau sudah pernah mengikuti PJTL salam ulos.

menurutku, PJTL bukan hanya tempat belajar saja, seluruh delegasi dari masing-masing Pers mahasiswa bergabung disana. untuk mempromosikan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) mereka, berbagi kisah dan pengalaman mereka, sistem organisasi, bahkan hal-hal berkembang lainnya.

aku pernah menjadi panitia di Almamater, saat itu LPM Teropong mengadakan PJTL di Medan, sebagai anggota acara. tidak kuliah, menginap dengan tempat yang seadanya, makan sering ketinggalan, tambah bekerja dipagi hari, terpaksa pulang pergi kesana. karena tanggungjawab menjadi anggota acara, jadi kepikiran terus untuk kembali ke PJTL disana. sangat melelahkan.

yup, Kembali ke PJTL salam Ulos, ini adalah pelatihan kedua kalinya untukku, aku merasa beruntung mendapat kesempatan ini, walaupun masih berada di medan, Danau Toba. tapi aku tak pernah bosan pergi kesana, setiap kali melihat danau toba saat diperjalanan menuju tempat penginapan, rasanya aku baru pertama kali kesana. benar-benar Indah.

sayang, aku bukan orang yang terlalu senang menjepret disana sini, bagiku mataku adalah kamera terbaik. melihat dengan seluas-luasnya, memandang dengan mata sendiri rasanya sebuah kenikmatan sendiri bagiku daripada mengambil kamera dan mengabadikannya disana.

tapi, ternyata walaupun sekali jepretan itu penting juga untuk diabadikan, untuk mengingatkan aku pernah kesana diwaktu lampau.

yup, terlalu banyak intermezo disini, dimana fokus tulisanku? hhaha ...

then, di salam ulos tersebut sekitar 20 an orang mengikuti pelatihan bersama-sama. pemateri pelatihan itu adalah Andreas Harsono dan Mbak Chik Rini. mereka adalah orang yang sangat ramah. cara pandang mereka luas, walaupun ada sebagian yang aku tidak setuju. tapi ilmu mereka patut untuk diserap.

dan Alhamdulillah sekali aku pergi bersama seorang temanku yang satu LPM, Novi. kami berangkat bersama dari kampus dengan becak mesin, berhenti sebentar di supermarket untuk membeli jajanan dan berbincang di sore hari untuk mendiskusikan hal-hal yang bagiku itu sangat penting. hal-hal yang membuatku tersadar. betapa aku harus tetap pada pendirianku, dan menyaring apa yang telah aku dapatkan dari orang lain.

kami mengikuti PJTL selama kurang lebih 6 hari. temanya tentang bernarasi di tanah deli. kami di ajari mengenai cara menulis dengan metode narasi. yang lebih panjang dari feature, tetapi tetap membuat pembaca penasaran hinggga di akhir cerita.

yang paling kuingat untuk menulis narasi adalah, pada alunan paragraf tidak boleh monoton, artinya harus memberikan sedikit ruang bagi pembaca.

seperti ini, paragraf yang memiliki banyak kalimat dan sedikit kalimat. jadi paragraf tersebut seperti irama dan musik yang menyamankan para pembacanya. dan lagi Andreas selalu memberitahuku agar aku membuka mata, fikiran untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.

walau nyatanya, ketika aku menulis aku menyadari tulisanku sedikit "membosankan", tapi akan kupelajari narasi itu hingga tulisanku berubah dan membaik :P

disana, kami tinggal di sebuah mes PTPN, tempatnya cukup cantik, ada dua kamar yang disediakan untuk peserta, dan aku berada disalah satu kamar yang ramai penghuninya. ada ninda dari LPPM balairung, nurul dari dinamika, Uni Mery dari Ganto, dan , tepatnya kami 7 orang didalamnya.

sedangkan teman kami dari bali dan padang memilih untuk mengambil kamar kedua, karena tempat pertama sudah penuh.



kami juga mengunjungi museum batak toba, makam raja, dan yang paling penting si gale-gale. itu adalah kedua kalinya aku menari dengan gale-gale, beramai-ramai mengikuti irama. itu menyenangkan.

dan baru pertama kalinya juga aku melihat museum batak toba. karena tempatnya seperti cafe dari jauh. rumah tersebut berdiri megah dengan gaya khas batak. rumah yang didepannya lebih tinggi dari bagian belakangnya. kami memasuki museum tersebut melalui anak tangga, dari bawah kolong rumah tersebut. seperti rumah panggung, tapi berbeda dengan khas melayu, memasuki rumah tersebut dari bawah kolong rumah tersebut.

didalamnya terdapat lukisan, baju adat, patung sigale-gale, uang kuno, patung yang digantung di atap-atap museum, disebut dengan Siga-siga, dulunya orang batak menggantungkan dirumahnya untuk menyimpan obat sekaligus mengusir roh jahat, topeng yang sering dipakai saat upacara meminta hujan, tempat tidur raja kuno yang bernama hubung hombung terbuat dari kayu besar, dengan alas tikar, tak empuk seperti kasur, dan tak terlalu besar juga menurutku, tapi harganya jutaan rupiah, mida butar, pemilik tempat tersebut tak rela menjual koleksinya walau dibayar dengan harga tinggi, juga tongkat, alat musik, dan lainnya yang aku lupa menyebutkan satu - satu namanya. tapi tempat itu adalah tempat yang cukup menyenangkan untuk mengikuti kisah batak dahulunya.

akhirnya, diakhir acara kami menikmati ikan bakar. ikannya sangat besar. dan rasanya cukup enak, walaupun durinya cukup banyak.

kami berfoto bersama di akhir acara sebelum keesokan harinya harus berangkat kembali pulang.
wajah kelelahan ...


No comments:

Post a Comment

Blogroll

 

Google+ Followers

Blogger news

About