Powered by Blogger.

Saturday, 24 August 2013

Ironi Gajah Sumatera

tepat dihalaman 21 hari selasa, 13 Agustus 2013 diharian analisa. tulisan pertamaku keluar. wah.. rasanya senangnya minta ampun. parahnya, aku baru tahu saat aku sudah mau tidur. tiba2 ingin buka onlinenya. padahal sudah lama tak mengharapkan apapun.. setelah berkali-kali menulis dan membaca akhirnya kerja kerasku berbuah sudah.


kukira, tulisanku biasa saja.. apa yang salah ya? batinku. bukannya terlalu pede dengan tulisan sendiri, rasanya aku telah banyak mencari referensi dari sana sini namun akhirnya tulisan inilah jawabannya.

aku punya impian, aku ingin terus menulis dan terbit di jakarta post.. hhaha.. well isn't too much?
but dunia tulis menulis ini sepertinya mengasyikkan. memang dasarnya i really loved writing, in bahasa and speaking in english.. well, what's that?

maybe you think this is insane, but that's the truth, I really loved speak in english, maybe i loved write english text, but I never try to do that. I mean full english, who knows? maybe that's will be great when I try it.



Ironi Gajah Sumatera
Oleh : Khairun Nissa
Mungkin pepatah gajah mati meninggalkan gading sudah tak bisa dipakai lagi, pasalnya banyak gajah ditemukan mati tanpa gading. Kekejaman baru-baru ini sontar terdengar di media-media lokal maupun nasional. Di Indonesia, gajah yang sering menjadi incaran pemburu adalah gajah liar aceh. Menurut data Worldwild Fund (WWF), sedikitnya tercatat 11 ekor gajah dilaporkan mati di sejumlah daerah di Aceh pada sepanjang April-Desember tahun lalu.
Dua bulan terakhir ini, sekitar empat ekor gajah Sumatera ditemukan mati secara mengenaskan di Aceh. Salah satu diantaranya adalah kasus pembantaian seekor gajah Sumatera bernama ‘Papa Genk’ Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoinet, Aceh Jaya, (tribunnews.com). bukan hanya itu, seekor gajah dewasa ditemukan mati di kawasan perkebunan kelapa sawit PTPN I Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Diduga gajah itu dibunuh oleh sejumlah orang tak dikenal yang ingin mengambil gadingnya. “Saat ditemukan warga tadi, gajah dewasa itu sudah tidak bernyawa lagi. Diduga gajah itu sudah mati beberapa hari lalu,” kata Abdullah, warga setempat, kepada detik.com, Kamis (25/7).
Tak sampai disitu, Pekan lalu seekor bayi gajah, Raju, tak bisa diselamatkan akibat menderita malnutrisi akut di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh besar. ia ditemukan oleh masyarakat Gampong Blang Pante tanpa induknya. Sebelumnya, bayi gajah lain yang oleh masyarakat Blang Pante diberi nama Raja juga bernasib serupa. Bayi berusia sekitar dua bulan ini mati mengenaskan akibat malnutrisi.
Malnutrisi akut tersebut disebabkan oleh kurangnya pasokan makanan dan vitamin pada bayi gajah. Seekor bayi gayah harus mendapatkan antibodi yang cukup dari induknya. Bantuan vitamin dan susu saja tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Malnutrisi dapat menyebabkan gangguan diare, daya tahan tubuh tidak kuat hingga kematian.
Bayi-bayi gajah tersebut kehilangan induk mereka, entah akibat tersesat ataupun induknya mati namun banyaknya penemuan induk gajah yang mati tanpa gading telah membuktikan dampak dari pemburuan liar tersebut.
Perambahan Hutan
Perambahan hutan telah membuat gajah kehilangan rumah dan makanan, saat mereka lapar tak ada pilihan lain selain mencari makanan hingga ke lahan warga. Hal inilah yang membuat gajah semakin terpuruk dan menjadi musuh para warga. Pembunuhan gajah untuk mengambil gadingnya pun tidak bisa dibiarkan. Tidak saja negara ini yang mendapatkan cap buruk di mata dunia, namun juga keselarasan hidup yang tidak bisa dijaga ini akan menimbulkan malapetaka dikemudian hari.
Perebutan kekuasaan antara hewan dengan manusia seperti semakin menjadi-jadi saja. Hutan yang seharusnya digunakan untuk hewan dan manusia bersama-sama sepertinya tak bisa dikompromikan lagi. Manusia semakin hari semakin banyak, apabila hutan terus dijamah maka akan tak mungkin suatu saat hutan akan digantikan dengan gedung dan kota. Bukannya malah semakin maju, makhluk hidup dibumi ini pun akan semakin kekurangan hutan dan pepohonan yang diciptakan untuk menghasilkan oksigen, hal yang sangat penting melebihi apapun.
Hutan di aceh sekarang dan dulu
Masa Jaya Gajah
Dahulunya Pada zaman kesultanan Aceh abad ke-17 gajah memenuhi rimba dan ditunggangi sebagai sebagai simbol keagungan sultan. Gajah pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kerajaan. Gajah liar diburu untuk dijinakkan dan dirawat dengan baik. Setelah jinak, gajah yang dipandang baik dan terbesar akan dijadikan gajah sultan. Sisanya untuk armada perang Aceh. Gajah-gajah perang itu dihias seindah mungkin dengan emas dan permata.
Namun pada masa sultanah Safiatuddin kepemilikan gajah tak terbatas lagi pada Sultan. Aceh tak hanya mengoleksi gajah namun juga mengekspor dan membarternya dengan hewan lain. Seiring meredupnya Kesultanan Aceh, gajah bisa dimiliki oleh orang-orang kaya. Memasuki abad ke 20, gajah semakin tak terlindungi lagi, ia hanya menjadi barang buruan, dagangan, bahkan menjadi musuh warga.


Gading Gajah
Harga yang dijual
Gading dijadikan apa saja
Selamatkan Hewan selamatkan Kita juga
Manusia, hewan dan tumbuhan hidup harmonis
Apabila hewan mati
Apabila hutan habis
SOLUSI


well well.. untuk menulis perlu banyak membaca. I hope what I want will be coming true. sooner, or next year.. hhehe...

then.. see you
keep positive guys!

No comments:

Post a Comment

Blogroll

 

Google+ Followers

Blogger news

About